ASRAMA YAYASAN SOPOSURUNG

back

Aditia Perlanja Sira

Rio Ananta Perangin-Angin

 

        Tenggelam dalam hening dan diam. Entah dia melamun kosong atau memikirkan sesuatu. Aditia bersila di atas batu besar, menutup mata, dan merasakah hembusan angin lembah menampar pipinya yang kasar. Memang, Aditia menjadi lebih bersemangat untuk mengawali hari jika melihat matawari*terbit. Namun dia belum pernah sekalipun melewatkan kesempatan melihat Dibata memerintahkan segala makhluk untuk mengakhiri hari. Semburat jingga terhampar megah di atas langit. Sebuah rengget terdengar samar-samar oleh orang yang berada di perkampungan. Alunan nada-nada minor yang menggetarkan tanah, sanubari, dan jiwa dilantunkan oleh pemuda Aru tepat ditepi Lau Kawar Simalem.

            Oh iyo…iyo…

            Kuja gia pagi kena laws

            Ula lupaken Lau Kawar Simalem

            Nake…

        Gema kicauan burung piso surit menyahut alunan rengget Aditia, mengingatkannya pada petuah kakeknya, “Segeralah pulang kalau piso surit berkicau!” Lagipula perutnya meronta minta makan. Aditia berdiri. Diperbaikinya posisi kain bekabuluh-nya untuk menutupi bahunya yang tersingkap. Matanya memancarkan kemegahan jingga ketika menangkap pantulan sinar matawari di atas danau.. Aditia menoleh ke belakang, menoleh ke arah Pentar, kerbau kecil kesayangannya. Bergegas ia pulang menuju perkampungan

***

        Aditia disambut oleh Teger, kawan karibnya sejak kecil, dengan tatapan aneh. Memang sudah menjadi adat kalau setiap anggota suku Aru tidak boleh meninggalkan perkampungan terlalu jauh. Tidak boleh menggarap tanah yang bukan wilayah kampung, sekalipun tak ada pemiliknya! Bahkan, Aditia yang hanya ingin menikmati senja di tepi danau sudah dipandang aneh oleh orang kampung. Aditia tak mengerti mengapa sukunya begitu menutup diri terhadap dunia luar. Menutup diri, tertinggal, dan sengasara. Hanya itu yang bisa dibayangkannya jika mereka tetap hidup begini. Buktinya, kali ini dia lapar dan tak ada makanan di rumah. Bapaknya tidak bekerja karena tak ada tanah tersisa untuk digarap. Kalau tak ada tetangga yang memberi makanan, maka tak ada makanan!

        Semua berjalan normal ketika seisi rumah Aditia hendak tidur. Aditia tetap belum makan. Perutnya semakin gencar memaksa untuk segera diisi. Tapi tak ada makanan! Ini sudah kesekian kalinya dia tidur dengan perut kosong. Bahkan dia tak bisa menghitung berapa kali dia kesulitan untuk terlelap karena lapar.

        “Pak, aku muak dengan ini semua!” ketus Aditia tiba-tiba setelah memastikan ibunya sudah tidur. “Apa maksudmu?” Tanya bapaknya heran karena ucapan aneh anak tunggalnya.  “Aku tidak mau kelaparan lagi. Aku mau mencari makan dan aku mau makan jika lapar. Aku ingin mengolah tanah, dimanapun itu. Aku mau mengerjakan apapun yang bias kukerjakan, Aku tak mau terkurung disini, tanpa ada yang bisa dikerjakan. Di luar sana pasti kita hidup enak, pak!” jawab Aditia.

        Entah apa yang mengajarkan Aditi berkata begitu. Mungkinka ini berasal dari tendi yang tertanam dalam jiwa, atau berasal dari setan yang hendak menghancurkan hidup Aditia. Aditia sadar bahwa keinginannya melanggar adat.        Aditia terdiam. Jantungnya serasa ingin loncat dan menarik semua kata yang didengar bapaknya. Baginya, tak ada yang lebih menyeramkan di dunia ini selain amarah bapaknya, karena dia belum pernah melihat tendi amarah muncul dari bapaknya.

        “Jadi maumu apa?” tanya bapak Aditia dengan tenang, setenang Lau Kawar saat belah purnama raya – purnama paling agung dalam adat.

        Aditia bingung mau menjawab apa. Apalagi, bapaknya adalah tipikal orang yang memegaang teguh adat. Adat, adat, dan adat. Itulah alas an terkuat mengapa bapak Aditia memilih bertahan untuk hidup seperti ini. Dengan tergagap Aditua menjawab ”Aku mau merantau ke Madan, Pak.”

        “Pergilah. Tak ada yang bisa melarangmu pergi. Tapi ingat, kau telah melanggar adat. Kau takkan diterima lagi jadi orang Aru setelah kau tinggalkan kampung ini. Kau juga tak bisa lagi menjadi anakku,” balas bapaknya tenang.

          Kata yang menyergap Aditia menderu seolah-olah ada gendang perang yang ditabuh tepat diatas kepalanya. Jantungnya berdetak kencang. Keringat bercucuran. Memang banyak orang Aru yang tak tahan hidup miskin merantau ke negeri orang. Setelah sukses, mereka tak lupa untuk kembali ke kampung. Tapi mereka diusir. Mereka dianggap sebagai aib, bahkan oleh keluarganya. Banyak diantara mereka yang telah diusir menghapus merganya dan mengaku sebagai orang melayu di tanah orang.

            Menimbang, Aditia memutuskan untuk merantau. Dia pergi bermodalkan tumbuklada dan menghilang ditengah kegelapan.

            Pagi harinya, Aditia sampai di Sibolangit. Resmi sudah dia menjadi aib keluarga. Nampaknya senja datang lebih cepat dari biasa. Ini pertama kalinya Aditia tidak bersila di tepi danau kala senja. Di sekelilingnya hanya ada tembakau. Kata orang, semuanya milik Belanda, termasuk jalan yang belum diaspal yang dilaluinnya. Adia juga mobil yang berhenti di tepi jalan dengan manisnya. Aditia yakin itu miliki orang Belanda. Karena terlalu lapar dan lelah, Aditia memutuskan untuk beristirahat. Dia tidur bersama Pentar, di bawah pohon rindang.

            Ayam jantan liar berkokok membangunkannya jam dua subuh. Merasa cukup kuat, Aditia melanjutkan perjalanan. Setelah lima menit bergerak, Aditia sadar ada yang janggal. Ada paku berserak di jalan. Baru dia tersadar lagi, jalanan cukup terang padahal tak ada matahari atau bulan! Aditia melempar pandangan ke segala arah, dan tampaklah kobaran api yang besar dari kejauhan, membakar ladang tembakau milik Belanda. “Astaga, musuh berngi!” pekik Aditia dalam batin yang mulai takut akan terjadi sesuatu. Teringatlah Adita kalau musuh berngi hanya ingin mengusir Belanda dari Tanah Aru dengan membakar tembakau mereka. Secepat mungkin Aditia meninggalkan Sibolangit.

            Aditia sampai di Pancurbatu ketika menjelang siang. Aditia melihat banyak sekali orang Aru di Pancurbatu. Terlihat dari bekabuluh mereka. “Mereka pasti perantau yang sukses!” batin Aditia yang menjadi semakin bersemangat karena melihat sepotong surga di bumi. Di Pancurbatu, semua perantau Aru yang sukses dan diusir berkumpul dan menyatakan diri sebagai orang Aru asli, walau adatnya sedikit berbeda. Tapi mereka semua berasal dari keturunan yang sama.

            Matawari sudah tepat berada di atas kepala dan Aditia tiba tepat di perbatasan. “Inilah Madan,” pikirnya. Aditia tak tahan lagi dengan rasa laparnya. Dia merebahkan diri di tugu perbatasan. Dia tak tahu apa yang bisa dilakukannya sekarang. Bahkang dia merasa tak kuat lagi melakukan apapun. Mungkin dia akan mati disini. Dia mulai menyesali semuanya. Aditia sudah kehilangan semua. Rumah, adat, kelurga, harga diri, dan semua! Tak ada yang dikenalnya disini. Banyak orang lalu lalang dan membiarkannya begitu saja.  Dia merasa betul-betul kesepian ditengah orang Madan begitu ramanya. “Hei, ngapai kau disini?” tanya seorang berbadan besar. Merasa terancam, Aditia menarik tumbuklada miliknya dan menghunuskan pisau kecil itu ke arah pria besar itu. “Buk!” Dalam sekali hantam, Aditia tumbang. Dia dibopong entah kemana.

            Aditia terbangun di sebuah rumah yang tertata rapi. “Tunggu ya, ikannya belum masak,” seorang perempuan cantik sedang memasak di dapur. Tak ada orang lain di dalam rumah. Aditia yakin ikan itu untuknya. Tunggu dulu! Perempuan itu menabur garam diatas ikan itu. “Garam! Sira!” pekik Aditia lalu berlari heboh menuju dapur.

            “Mengapa kau memberiku ikan dengan garam?” tanya Aditia setelah memastikan bahwa yang ditabur oleh perempuan itu adalah garam. “Mengapa? Ada yang salah?” balas perempuan itu bingung sambil menyerahkan ikan itu kepada Aditia. “Ini, makanlah! Kau kelihatan lapar.”

            “Bukan. Bukan itu. Berapa harga garam satu gantang?” tanya Aditia penasaran karena tidak mungkin perempuan itu memberi ikan bergaram kepada orang asing. Garam memang barang berharga bagi orang Aru, karena diatas gunung sana garam sangat langka. Harganya pun mahal bukan main karena serbuk ajaib garam dapat mengubah semua makanan menjadi enak luar biasa.

            “Kau bisa dapat sepuluh gantang garam dengan satu koin perak” jawab perempuan itu santai.  Tampaknya dia orang Aru juga.

“APA?” balas Aditia heran karena segantang garam di Aru bisa mencapai seratus koin perak. Lagipula, hanya kepala suku yang bisa membeli garam dari orang asing secara khusus. “Dimana bisa aku beli garam?” tanya Aditia lagi. Aditia menyadari ada yang istimewa dari perempuan ini. Rambutnya berkilau seperti kilauan Lau Kawar.

            “Pergilah ke Pasar Keriahen di Pancurbatu” jawab perempuan itu. Dari cara bicaranya, jelas dia bukan orang Aru “Tapi kembalilah sebelum senja karena tuan Belanda akan mempekerjakanmu.”

            “Bolehkah aku pergi selama empat hari?” tanya Aditia lagi.

            “Kumohon jangan! Aku yang melepas tali yang mengikatmu. Aku bisa dimarahi habis-habisankalau tuan tahu aku yang melepasmu.

            “Tenanglah! Aku akan datang lagi dan membebaskanmu. Aku akan menikahimu jika perlu. Terimakasih untuk  ikannya. Rasanya sangat enak!” jawab Aditia lalu menghilang secepat kilat, padahal dia belum tahu perempuan itu sudah menikah atau belum.

            Aditia bekerja sebagai tukang antar buah selama sehari penuh bersama Pentar yang ditemukannya terikat di depan rumah Belanda. Upahnya cukup untuk membeli tiga belas gantang sira. Bergegas dia pulang ke kampungnya. Dia masuk ke dalam kampung dan dihentikan di tengah kampung. Tak lupa parang dan obor dibawa untuk menyambutnya. Sungguh sebuah keramahan yang bengis.

            “Adat tetaplah adat!” teriak seseorang dari kejauhan.

            “Pergi atau kami bakar kau!” sahut yang seorang lagi.

            Aditia panik, bingung, dan ketakutan. Sekarang dia tak tahu mau berbuat apa. Perutnya juga benar-benar lapar karena tidak membawa bekal dari Pancur.

            “KITA SEMUA KELAPARAN” pekik Aditia sekeras amukan Dibata kala berperang melawan setan-setan di udara. Semua terdiam, merenung, dan sadar bahwa mereka kelaparan. “Aku datang membawa harta. Ada cukup banyak sira untuk kita semua!” jawabnya lagi.

            “Semua dengarkan aku!” Sebuah suara yang tenang muncul ditengah keriuhan. Tentu saja dia adalah kepala suku yang dihormati. “Aditia anakku, terima kasih kau telah membuka mataku, atau kurasa, kau telah membuka mata semua orang disini. Kau benar, kita semua kelaparan karena adat yang kita pegang teguh. Sekali lagi, semua dengarkan aku! Ini keputusanku dan tak ada yang boleh melawan. Aku adalah kepala suku! Mulai hari ini, Aditia boleh keluar masuk kampung untuk membawa sira. Kita jual sira ini ke suku lain. Mereka juga pasti tak punya garam. Tapi dengan satu syarat, kau tidak boleh menikah dengan perempuan diluar kampung ini!”

            Aditia tersenyum. Bahkan jika Dibata yang mengatur perdebatan ini, hasilnya tak akan semanis ini. Dia kembali ke Madan untuk membawa lebih banyak sira. Tapi dia datang ke rumah Belanda terlebih dahulu. Dilihatnya gadis melayu itu di menyapu di depan rumah.  Aditia tersenyum. Gadis itu pun tersenyum kepadanya.

            “Kau tidak apa-apa?” tanya Aditia dengan sedikit khawatir.

            “Tidak. Tuan belanda tidak marah kepadaku. Dia bilang dia tak jadi mempekerjakanmu karena kau terlihat seperti orang penyakitan. Padahal aku yakin kau lebih kuat dari semua pria di sini” jawab perempuan itu.

            “Aku Aditia. Siapa namamu?” tanya Aditia penasaran.

            “Namaku Corah” jawab perempuan itu.

            “Maaf, Corah. Aku tak tahu kau sudah menikah atau belum. Tapi apapun itu, aku tak bisa menikahimu. Adat melarangku. Tapi kumohon izinkanlah aku mengenang ketulusanmu,  dan mengenang kilau rambutmu untuk sepanjang hidupku,” balas Aditia sedikit malu, lalu pergi karena tak tahan menatap wajahnya terlalu lama. “Kurasa, tanpamu aku sudah mati di perantauan” ucap Aditia dalam hati. “Aku mencintaimu!” Aditia berteriak sekuat mungkin. Sekuat ketulusan seorang perempuan yang menolongnya dengan tulus. Sebuah teriakan yang hanya bisa didengar olehnya, dan oleh batinnya yang kosong.

            Aditia sudah dua puluh empat kali pulang pergi membawa garam ke kampungnya. Memang pekerjaannya tidak mudah. Kadang dia diganggu hewan liar, hingga dikejar-kejar oleh orang Belanda karena disangka musuh berngi. Orang-orang menyebutnya Perlanja Sira. Kini kehidupan desa sudah lebih baik. Adita tak bisa lagi menjadi seorang perlanja sira. Sudah terlalu banyak sira disini. Diatas bukit barisan.  Harganya pun tak mahal lagi.

            “Siapkan dirimu, Pentar. Kita akan berangkat lagi ke Pancur Batu. Kurasa, jadi tukang cuci mobil dan tukang tambal ban akan memberi kita makan. Akan banyak orang Belanda korban musuh berngi membutuhkan kita disana.”

***

Aditia berdiri. Dilepasnya kain bekabulunya dan diikatkannya ke kepalanya. Dia mendongak, menantang matawari yang ketakutan sedang bersembunyi dibalik gunung-gunung. Matanya memancarkan kemegahan jingga, bukan, itu bukan jingga pantulan sinar matawari di atas danau. Itu adalah mata yang memancarkan semangat berapi-api untuk menyongsong masa depan.

 

Footnote :

·         Bekabuluh : Kain tipis berwarna merah yang dilipt membentuk segitiga lalu digunakan 

      untuk menutup bahu dan seperempat punggung. Digunakan oleh pria.

·         Merga : Klan dalam suku Aru. Bisa juga disebut sebagai nama keluarga atau last name

·         Matawari : Matahari

·         Dibata : Tuhan

 

 Perlu diketahui cerpen ini fiktif adanya.... Semua hanya karang-karangan saya semata :D hehehe...


2014-10-30 07:13:12
mekar

Connect with us,

© 2014 Yayasan Soposurung Balige. All rights reserved.
logoyasop2

Asrama Yayasan Soposurung

Jl. Dr. Adrianus Sinaga
Soposurung - Balige
Kabupaten Toba Samosir 22312
Telp/Fax. (0632) 21496
Design by:

Art Of Silence

Personal Web Developer
Jl. Tarutung, Soposurung - Balige
INDONESIA
Email : anjuros@gmail.com